Masalah Sosial

Masalah sosial dalam Mahasiswa

Masalah mahasiswa saat ini

Memahami potensi mahasiswa negeri ini, muncul rasa bangga. Masih banyak yang gigih belajar, arif menyikapi perbedaan dan peduli terhadap berbagai krisis yang terjadi. Cukup tangguh menciptakan pressure sehingga menjadi ide bersama dan tidak bisa dianggap remeh segenap elemen bangsa ini. Namun demikian, melirik tantangan dan persaingan global di masa depan, tampaknya perlu ditata ulang segenap aktivitas belajar mahasiswa, baik di kampus maupun di luar kampus.

Memahami potensi mahasiswa negeri ini, muncul rasa bangga. Masih banyak yang gigih belajar, arif menyikapi perbedaan dan peduli terhadap berbagai krisis yang terjadi. Cukup tangguh menciptakan pressure sehingga menjadi ide bersama dan tidak bisa dianggap remeh segenap elemen bangsa ini. Namun demikian, melirik tantangan dan persaingan global di masa depan, tampaknya perlu ditata ulang segenap aktivitas belajar mahasiswa, baik di kampus maupun di luar kampus.

Sebaiknya aktivitas belajar mahasiswa di kampus harus gayut dengan persoalan riil masyarakat. Aktivitas utama di kampus adalah belajar dalam arti yang luas. Hasil penelitian yang dilakukan Tim Ditjen Dikti pada 12 PTN dan 5 PTS beberapa tahun lalu, menunjukkan, 75 persen mahasiswa cendrung tidak mampu belajar mandiri (sangat tergantung pada dosennya). Mungkin keadaan sekarang belum jauh bergeser.

Idealnya, menurut Kepmendiknas 232/2000, aktivitas belajar mahasiswa meliputi Tatap Muka (Teori), Kegiatan Praktikum, Kegiatan Lapangan, Tugas Terstruktur, dan Tugas Mandiri. Proporsi Teori, Praktek dan Lapangan berturut-turut : 1 : 2 : 4. Artinya 1 SKS setara dengan 1 jam teori, atau 2 jam praktek, atau 4 jam lapangan, masing-masing diikuti dengan kegiatan 1-2 jam tugas terstruktur dan 1-2 jam tugas mandiri. Atas formula ini, jika beban studi 20 SKS, dibutuhkan waktu sekitar 90 jam perminggu atau rata-rata 15 jam perhari untuk melakukan semua aktivitas tersebut (1 minggu = enam hari efektif). Jika asumsi 1 hari 24 jam, maka hanya ada waktu istirahat 9 jam perhari dan untuk semua aktivitas lainnya.

Secara matematis dapat dikatakan, jika jumlah jam belajar mahasiswa di bawah 15 jam per hari, dapat diprediksi, yang bersangkutan cendrung mengalami kegagalan. Ini kalkulasi matematis, jadi tidak berbasis etnik, suku dan atribut lainnya. Sejauh ini belum ada penelitian yang akurat tentang rata-rata waktu belajar yang digunakan mahasiswa di Indonesia, namun diduga relatif lebih rendah dibanding negara-negara ASEAN.
“A Week in the Life of a Hong Kong Student” Project, mendeskripsi bagaimana mahasiswa menggunakan waktu dalam 1 minggu (168 jam). Belajar di kelas formal 15,7 jam; belajar mandiri 21,8 jam; berdiskusi dan bersosialisasi 33,2 jam; bekerja paruh waktu 3,8 jam; bepergian dan makan 27,3 jam; tidur 49 jam (7 jam per hari); lain-lain 17,2 jam. Tampak, waktu yang dibutuhkan mahasiswa untuk aktivitas belajar tidak kurang dari 11 jam perhari. Tentu disamping durasi waktu yang cukup besar, kualitas belajar mahasiswa di Hongkong juga berbeda dengan mahasiswa di Indonesia sebab terbukti, lulusan mereka mampu mendorong negaranya menjadi negara maju.

Di Amerika, hasil studi di beberapa universitas oleh National Survey of Student Engagement menunjukkan, aktivitas belajar mahasiswa sangat bervariasi. Setiap aktivitas dikerjakan sedikitnya 61 % mahasiswa. Dalam laporan survey ditulis bahwa (1) 87 % melakukan penulisan paper berdasarkan berbagai informasi terbaru (2) 79 % mahasiswa berkomunikasi dengan dosen berbasis e-mail (3) 75 % aktif bertanya di kelas dan berkontribusi pada setiap diskusi di kelas, (3) 66 % mahasiswa aktif mensosialisasikan hasil bacaan kepada sesama mahasiswa kelas sendiri atau kelas lain atau keluarga, (4) 67 % mahasiswa memperoleh dorongan dan umpan balik dari sivitas akademika atas prestasi akademik secara lisan maupun tertulis, (5) 61 % mahasiswa aktif terlibat dalam diskusi kelompok yang berbeda ras, suku, aliran politik, dan gender. Bandingkan dengan sebagian mahasiswa kita. Tugas kelompok cenderung hanya dikerjakan sendirian, sementara tugas mandiri dikerjakan secara berkelompok.

Apa Akar Masalahnya ?

Pola penggunaan waktu yang kurang efisien diduga merupakan akar masalahnya. Masalah ini tidak berdiri sendiri. Persoalan negeri ini secara makro juga merupakan faktor yang menentukan, meski dalam ulasan kali ini tidak menjadi fokus kajian.

Ada permasalahan yang segera perlu diatasi. Pertama masalah yang cendrung melekat pada diri mahasiswa yang terkait dengan rendahnya motivasi, konsep diri, etos belajar, ekspektasi, dan rendahnya daya juang mahasiswa. Sampai saat ini belum ada upaya yang terstruktur dan sistematis yang dilakukan dosen untuk mengatasinya. Ketulusan, kesabaran dan konsistensi sikap serta perilaku dosen untuk mengintegrasikannya dalam mata kuliah masih perlu dipertanyakan. Portofolio mahasiswa yang secara akurat dapat digunakan untuk memonitor kemajuan belajar mahasiswa sampai saat ini belum dikembangkan. Kedua kreativitas dosen untuk “memaksa” mahasiswa belajar mandiri. Standar critical book report, problem solving, cooperative learning, review of research findings, case study tidak jelas dipahami mahasiswa. Akibatnya mahasiswa mengerjakannya “apa adanya”. Masalah lain, masih jarang dosen yang mereview tugas-tugas dalam bentuk komentar yang memandu perbaikan. Ketiga desain proses pendidikan yang terjadi kurang sesuai dengan harapan dan keinginan mahasiswa. Kemonotonan pendekatan, metoda dan teknik pembelajaran bisa saja mematikan hormon adrenalin belajar mahasiswa. Keempat pola, sistem, mekanisme dan prosedur evaluasi yang tidak konsisten pada standar kompetensi dapat memudarkan semangat belajar mahasiswa, sebab tanpa kerja keras juga mahasiswa tetap memperoleh nilai yang tinggi. Kondisi ini akan semakin suram bila sistem evaluasi yang diterapkan dosen akrab dengan ketidakobjektifan. Kelima ketidakpastian lapangan kerja juga dapat menurunkan semangat belajar mahasiswa. Keseluruhan permasalahan dapat diatasi secara perlahan, jika kemampuan mahasiswa untuk mengelola waktu dapat ditingkatkan secara gradual.

Manajemen Waktu oleh Mahasiswa.

Kathleen Riepe mengatakan, time is a non renewable resource, once it is gone, it is gone. Gerakan membangkitkan kesadaran mahasiswa akan manajemen waktu harus diintegrasikan dalam seluruh aktivitas pendidikan. Perlu ada kesadaran, yesterday is history, tomorrow is a mistery, but today is a gift that’s why we call it the present. “The present” dalam hal ini merupakan hadiah dari Yang Maha Kuasa, oleh sebab itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Andaikan satu hari yang terdiri dari 86.400 detik, identik dengan sejumlah uang yang harus dihabiskan dalam satu hari dan tidak dapat ditabung untuk hari berikutnya, maka kita akan mengalami kerugian besar andaikan kita tidak dapat membelanjakannya dengan baik. Sama halnya dengan waktu, tentu kita tidak akan ikhlas jika terbuang sia-sia.

Begitu pentingnya manajemen waktu meski sampai saat ini belum dimasukkan dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Mencermati persoalan rendahnya kemampuan mahasiswa untuk menggunakan waktu, tampaknya wajar dimasukkan dalam kurikulum universitas. Pada umumnya sekolah di negara maju memiliki prinsip-prinsip penggunaan waktu yang sangat ketat. Meniru sebuah kebaikan tentulah berbuah kebaikan juga. Untuk itu sudah saatnya disusun sebuah pola pengunaan waktu bagi mahasiswa dan dipublikasi secara terbuka di seluruh sudut kampus.

Secara umum prinsip pembagian waktu yang relevan bagi insan kampus adalah (1) mengidentifikasi waktu terbaik untuk belajar. Are you a “morning person”, or a “night person”?, (2) pelajari hal-hal yang berat dikala stamina masih segar, (3) gunakan tipe belajar distributed learning and practice sehingga terhindar dari kelelahan dan pemborosan waktu, (4) pastikan lingkungan sekitar kondusif untuk belajar, (5) alokasikan waktu untuk memanjakan indera, (6) tidur dan makanlah sesuai kebutuhan dengan dosis dan jadwal yang tepat (mengurangi waktu tidur yang mengakibatkan konsentrasi belajar menurun bukanlah pilihan yang bijak), (7) kombinasikan aktivitas lain dengan belajar, misalnya membaca buku di angkutan umum, mendengarkan CD pembelajaran saat antri di bank, dan lain-lain.

Membangun aktivitas belajar mahasiswa dimulai dengan menghimpun aspirasi dan pendapat mahasiswa tentang pembelajaran yang menyenangkan. Dalam pikiran mahasiswa, seorang dosen adalah (1) orang yang ahli dan sangat menguasai ilmunya, (2) memiliki pengalaman yang cukup dan sangat menghayati ilmunya, (3) mampu mendeskripsi dan merasakan segala kesulitan dan keluh kesah mahasiswa, (4) mampu menolong mahasiswa memecahkan berbagai masalah, (5) terampil bertanya, (6) mengajak berpikir, dan (7) memiliki empati dan ketulusan. Kepemilikan dosen akan keinginan dan harapan mahasiswa secara alami akan dapat mendorong peningkatan aktivitas belajar mahasiswa.

Secara singkat, perlu dirumuskan upaya-upaya internal kampus yang mendesak untuk mendorong aktivitas belejar mahasiswa. Upaya di bawah ini harus menjadi gerakan massal oleh segenap sivitas akademika.
Pertama, menyamakan persepsi segenap sivitas akademika tentang jenis, tahapan dan mekanisme peningkatan aktivitas belajar mahasiswa. Fenomena perbedaan persepsi biasanya akan menimbulkan prasangka. Lazimnya prasangka menjadi siluman yang kontraproduktif terhadap percepatan perolehan program-program yang bersentuhan dengan mahasiswa, sebab seusia mereka sangat tanggap dengan contoh-contoh terbaik yang tidak pantas ditiru. Sebagian mahasiswa senang berargumen yang tidak argumentatif.

Kedua, perlu publikasi “besar-besaran” dalam berbagai bentuk tentang manajemen waktu belajar dalam diksi yang berbeda sesuai ciri khas fakultas. Kata-kata bijak produk ilmuwan fakultas tersebut tentang aktivitas dan manajemen waktu belajar perlu dipublikasi di tempat-tempat yang strategis.

Ketiga, desain seluruh aktivitas dan tugas-tugas perkuliahan harus secara kreatif dapat “memaksa” mahasiswa untuk membaca yang diikuti dengan indikator-indikator yang terukur.

Keempat, tugas-tugas aktivitas pendidikan perlu diciptakan bervariasi dalam bentuk critical book report, problem solving, cooperative learning, review of research findings, step by step discussion, computer aided learning, Springboard Seminar, tutorial, seminar makalah, presentasi mini, studi kasus, simulasi, permainan, dan sindikasi.

Kelima, menerapkan manajemen kelas dan manajemen universitas yang memungkinkan dosen mengendalikan seluruh aktivitas belajar mahasiswa. Perilaku organisasi pada semua level, mulai dari prodi sampai tingkat universitas perlu ditata sehingga kondusif terhadap suasana belajar bagi mahasiswa. Seluruh sarana dan prasarana, berupa gedung kuliah, perpustakaan, laboratorium bahkan prasarana lingkungan berupa taman dan trotoar ditata sedemikian rupa sehingga tampak mendukung efisiensi dan optimalisasi waktu belajar mahasiswa. Buku teks dan jurnal online yang relevan tampaknya menjadi kebutuhan yang mendesak untuk mendorong percepatan peningkatan kualitas aktivitas belajar mahasiswa dengan pengelolaan waktu yang proporsional.

Daftar Pustaka

http://nature-ridhotask.blogspot.co.id/2011/11/artikel-masalah-sosial-dalam-mahasiswa.html

Iklan

Cerita Pribadi di Kampusku

Cari Kampus dan Jurusan

Aku masuk UMS karna keinginanku sendiri. Walau keluarga mendorong untuk masuk negeri aku nggak urusan (hahaha anak kurang ajar). SNMPTN dan SBMPTN hanya kedok saja (anak kurang ajar tingkat provinsi).
Pertama kali aku mendaftar dan ikut tes, aku berangkat bersama temanku Ahmad. Berbekal sok tau dan keyakinan kami berangkat. Kami berangkat pukul 11.00 WIB kami berjalan muter-muter solo sampai ke sukoharjo akhirnya kamipun bisa menemukan kampus UMS. Samapi di gedung admisi sudah banyak yang mengntri, dalam hatiku untung aku sudah daftar online dan aku cetak tinggal nunggu antrian. Saat itu aku mendaftar di jurusan Ilmu komunikasi, karna itu jurusan keinginan saya. Saat tes pertama aku belum lolos masuk di jurusan itu, karena greed yang masih tinggi. Hari sudah mulai sore maka aku putuskan besok tes lagi. Aku kembali ke UMS kali ini aku berangkat sendirian karena aku belum tau daerah UMS maka hari itu juga aku tersesat entah dimana, aku coba membuka GPS tapi malah semakin dalam aku tersesat sampai akhirnya rantaiku copot dan putus dijalan. Untung saja ada bengkel kecil yang tidak terlalu jauh dariku. Setelah sampai ada hal yang aku takuti lagi yaitu aku tidak bawa uang. Hanya uang Rp 16.000,00 saja yang ada di kantongku. Di bengkel itu juga antri hatiku bingung,
1. Aku tidak bawa uang
2. Jam terus berjalan dan hari semakin sore
3. Aku belum tes lagi
4. Aku takut biaya benerin motornya mahal
5. Aku bingung kenapa untraman nggak datang menyelamatkan aku
Akhirnya aku coba cek ternyata hanya baut saja yang hilang. Aku membeli baut dan sedikit di perbaiki sama montirnya. Dan harganya mengejutkan saya harus membayar Rp 4.000,00 untuk membayar, lega hatiku.
Setelah motorku beres, kulanjutkan perjalanan ke UMS. Sebelumnya sudah dikasih tahu rute jalannya ke UMS dari montir bengkel tadi, aku pun tidak tersesat lagi. Setelah aku sampai UMS aku kaget karena kantor pendaftarannya sudah tutup, dan setalah saya lihat ternyata sudah jam 16.15 WIB (jengekel batinku level 3). Ketika perjalanan pulang aku mencoba untuk berjalan pelan dan mencari jalan dan ternyata ada jalan yang dekat dan gampang (batinku makin jengkel level 10).
Hari selanjutnya ketika aku mendaftar aku di temani temenku Roso namanya. Entah tenaganya roso atau tidak, aku nggak tau. Aku berangkat dengan rute jalan yang aku hafalkan ketika aku pulang setelah tersesat kemarin. Hari itu aku mendaftar masih di jurusan yang sama dan aku berhasil di terima di jurusan Ilmu komunikasi. Tapi sayang, setelah sampai rumah aku sempat di ceramahi sama keluarga dan tidak boleh masuk jurusan Ilmu Komunikasi, dan dituntut untuk harus jadi Guru. Setelah aku lama berfikir aku ingin mencoba jurusan Matimatika, eh maksud saya matematika..
Hari ke-4 aku mendaftar di jurusan matematika aku harus tes lagi, dan ternyata aku diterima. Setelah 3 hari aku membayar regestrasi jurusan matematikaku itu. Saat aku pulang aku melihat sebuah papan sepanduk akreditasi PGSD menjadi A. Aku penasaran dengan PGSD:
1. Apa sih PGSD itu?
2. Kenapa sih PGSD jadi faforit?
3. Gajinya gede nggak sih?
4. Dosenya cantik dan baik hati nggak sih?
Entah sampai mana aku menghayal. Karena penasaran dengan PGSD aku coba-coba untuk baca-baca di internet.
Setelah aku baca-baca, aku mulai paham kalo PGSD itu nantinya ngajar anak kecil di SD. Akhirnya aku iseng-iseng daftar lewat beasiswa prestasi (PBUMD), alhasil aku diterima. Aku senang sekali, aku bangga bisa masuk di jurusan faforit orang se Indonesia (ce’ilah).
Hari yang ku tunggu-tnggu datang kuliah di jurusan PGSD. Aku sempat mengira PGSD itu pelajaran anak SD tapi ternyata perkiraanku salah. Hari itu juga aku shyok karena ternyata materinya lebih sulit seperti mencari rumus. Tapi mau gimana lagi nasi tidak bisa menjadi bubur.
Tapi nggak papa anak PGSD, kelasku khususnya orangnya asik-asik. Semua enak diajak ngobrol, aku pun banyak mendapatkan teman sejati saya yaitu, srigala, gorila, panda, musang, dan orang utan (hafid, indra, kamal, nasrul, diska).
Di kelas PGSDku, aku dijadikan kepala suku (ketua) gila. Wakilku lebih ngeri dari aku dia seperti badak bercula tiga bagi saya efi namanya. Walau begitu dia pinter ngomong, jadi kalo aku nggak dapet ide dia yang aku ajuin (Hahaha ketua macam apa aku). Kelasku setiap makul di buat penanggung jawab, tapi apa daya ketika penanggung jawabnya telat aku juga yang harus maju (melas).
Tapi tenang aja anak kelasku hebat semua kompak, semua di tanggung bersama. Seneng bersama susah persama. Keringet berama mandi bersama (terlalu jauh menghayal). Pokoknya PGSD kelasku top. Tugas gak ngumpul bodo amat.
nggak hanya itu PGSD kegiatannya uga seru-seru:

  1. senam setiap hari um’at (lumayan bikin sehat geratis)
  2. baitul arqam (calon kiyayi)
  3. studi lapangan
  4. seminar tingkat antariksa
  5. dan lomba-lomba yang seru

ok sekian dulu kapan-kapan lanjut.

Cerit Anak

Ayah, Si Buruk Rupa

 

Selama ini aku selalu berhasil melarang Ayah datang ke sekolah: mengantar, menjemput, atau untuk keperluan lain. Tentu saja aku tidak terang-terangan melarang. Aku punya cara supaya Ayah tidak merasa aku larang ke sekolah. Seperti musim pengambilan rapor kemarin dulu, misalnya.

“Ibu saja yang mengambil rapor, Yah. Ayah ‘kan capek,” kataku ketika itu.

“Tapi besok ‘kan Sabtu. Ayah libur, tidak ke mana-mana.”

“Setiap hari Ayah ‘kan kerja, cuma libur hari Sabtu dan Minggu. Jadi, Sabtu dan Minggu jatah Ayah duduk manis di rumah, baca-baca, nonton tivi, atau siram-siram bunga. Tenang saja, Yah. Dijamin, pokoknya raporku keren,” kataku mencoba ‘melarang’ Ayah ke sekolah.

“Oke, deh,” jawab Ayah dengan gayanya yang khas.

“Yes!” aku berteriak –dalam hati, tapi– sambil mengepalkan tangan.

Kadang-kadang aku suka merasa berdosa karena sering menghalang-halangi Ayah ke sekolah. Habis, aku harus bagaimana. Kalau Ayah ke sekolah, semua temanku akan tahu penampilan ayahku tidak cool seperti ayah mereka. Bukan karena tidak bisa berdandan, tapi karena Ayah memang tidak menarik, baik wajah maupun postur tubuhnya. Sudah tidak tampan, kurus pula.

Aku tak habis pikir, bagaimana Ibu yang begitu cantik mau menikah dengan Ayah yang … ah, tidak tega aku menyebutnya. Ayah dan Ibu memang sungguh berbeda. Seperti langit dan comberan, begitu istilah Ayah setiap mengatakan perbedaan dirinya dan Ibu –tentu saja dengan nada bercanda. Langit dan bumi saja sudah jauh, apalagi dibandingkan dengan comberan –yang letaknya tentu lebih rendah dari permukaan bumi.

Kulit Ibu putih, bersih, tidak ada noda sedikit pun. Ibaratnya, kalau Ibu minum kopi, kopinya akan kelihatan meluncur dari mulut ke perut lewat lehernya yang indah itu. Sebaliknya, kulit Ayah hitam. Sudah hitam, banyak pulaunya.

“Yang ini bekas jatuh waktu mengejar layangan, yang ini diseruduk sepeda, yang ini kena petasan, yang ini disosor bebek, yang ini…” kata Ayah menunjuk peta pulau di kakinya dan menjelaskan bagaimana pulau-pulau itu didapat.

Ayah menjelaskan itu dengan riang gembira. Seolah-olah pulau-pulau di kakinya adalah sesuatu yang indah dan harus dibanggakan.

“Ayah norak, ih!”

Ayah malah tertawa. Sebelnya, Ibu juga ikut tertawa.

“Tahu tidak, selain kaki dengan pulau seribu ini, Ayah juga punya karunia lain yang sangat besar dari Tuhan. Karunia itu adalah wajah dan kulit Ayah.”

Mulutku menganga, mataku melotot. Tapi Ayah malah tertawa berderai.

“Kamu tahu apa maksud Ayah?” tanya Ibu ikut campur.

Aku menggeleng. Dengan gaya dibuat-buat, Ayah menjelaskan.

“Wajah Ayah adalah pemberian Tuhan. Ayah sudah seperti ini sejak bayi. Memang, Ayah bisa operasi plastik supaya wajah ini kelihatan tampan. Sayangnya Ayah tidak kaya. Seandainya kaya pun, Ayah tak mau operasi plastik. Lebih baik wajah Ayah tetap seperti ini daripada Ayah harus mengumpulkan ember dan tas kresek bekas dan membawanya ke dokter untuk modal operasi wajah Ayah. Jangan-jangan plastik-plastik bekas tadi akan meleleh kalau kena matahari. Hiii, seraam…”

Ayah dan Ibu tertawa. Menyebalkan. Huh!

“Kalau Ayah tidak boleh kena matahari, bagaimana kita bisa hidup. Ayah ‘kan tukang pos. Setiap hari harus berpanas-panas ke sana-kemari mengantar surat. Dari kerja itulah Ayah mendapat uang yang kita pakai untuk macam-macam: mulai dari makan sehari-hari, beli pakaian, bayar listrik, bayar sekolah, dan masih banyak lagi…” ujar Ibu melanjutkan.

Deg! Aku merasa nafasku sesak. Dan mataku terasa panas.Tiba-tiba begitu saja aku menubruk Ayah, memeluk, dan menciuminya.Di sela-sela tangis, aku cuma bisa berkata:

“Maafkan Cantika, Ayah…”

Ya, Ibu benar. Setiap hari Ayah berpanas-panas mengantar surat. Meskipun sudah ditutupi jaket, tetap saja kulit Ayah hitam. Dari kulit yang hitam terbakar matahari itu entah berapa liter keringat yang mengucur. Keringat itulah yang membuat aku bisa terus sekolah. Lalu, apa alasanku untuk tidak membanggakan orang itu, ayahku sendiri, yang telah bekerja keras demi aku, anaknya.

“Lho, lho, lho, ada apa ini?” kata Ayah sambil menerima pelukanku.

“Cantika, Cantika… Ayah bangga bisa berkumpul dengan kalian, bidadari-bidadari yang cantik. Ini anugerah Tuhan yang sangat besar. Tuhan sudah mengatur semuanya. Ayah yang buruk rupa ini bersanding dengan ibumu yang manis-ayu-cantik jelita. Kalau dua-duanya buruk rupa, ho ho ho, bagaimana Ayah bisa memperbaiki keturunan. Salah-salah wajah kamu bisa kotak-kotak…”

Puisi

PENANTIAN

 

Detik demi detik tlah berlalu
Terasa hampa tanpa senyummu
Menit demi menit tlah berlalu
Terasa setahun aku menunggumu
Adakah setitik rasa peduli darimu
Mungkin takkan kurasakan kesendirian ini
Andaikan saja rasa sayangmu merajai hati
Tak kan mungkin aku menepi lirih
Mengertilah rasaku begitu besar untukmu
Mengertilah penantianku yang begitu perih
Mengertilah dekapanmu yang begitu kurindu
Sayang aku mencintaimu tanpa syarat
Seluruh rasaku luluh kepadamu
Mengertilah sayangku penantianku kepadamu

Pantai Gunung Kidul

Ini pengalaman gue berjelajah pantai gunung kidul bersama teman” gue. Gue sendiri Erwin, teman gue Hafid, Naim, dan Saroh. Posisi gue dan teman-teman saat ini adalah di Surakarta bro. Gue dan teman-teman adalah mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi ternama di Surakarta. Ini cerita Trip gue ke pantai gunung kidul. Ketika itu gue dan temen” punya ide ke pantai gunung kidul sasaranya adalah pantai Wediombo, jungwok, watu lumbung, dan siung. Kami kesana ber4, kendaraan yang kami pakai adalah sepeda motor. Perjalanan dari solo ke gunung kidul kurang lebih 3 jam menggunakan speda motor.

  1. Pantai Wediombo
    Sasaran kami pertama adalah pantai Wediombo, pintu masuk kawasan pantai ini adalah Rp 5.000,00 perorang. Harga itu termasuk pantai” di dalamnya ada pantai Nampu, Wediombo, Jungwok, Watu Lumbung, dll. Tetapi sasaran kami pertama tetap pantai Wediombo. Sesampai pantai kami harus membayar Rp 2.000,00 bermotor, untuk parkir. Setelah itu kami disuguhi pemandangan yang luar biasa hamparan laut terbentang luas. Di pantai Wediombo dibagi menjadi 3 yaitu untuk main air, berbatu, dan bermain snorcling. Di sarankan untuk membawa payung karna panas juga. Masalah tempat rekreasi cocok sekali untuk keluarga dan remaja juga teman kerja. Hamparan pohon untuk berteduh bersama keluarga dan teman-teman, buat yang hobby camping juga bisa kok. Warung makan pun tersedia dimana-mana. Untuk kamar mandi kita harus membayar mandi Rp 5.000,00 dan buang air Rp 2.000,00. Mengenai tempat ibadah juga ada hanya airnya kita harus memanfaatkan kamar mandi yang harus bayar tadi.
  2. Pantai Jungwok
    Setelah kami menikmati pantai Wediombo perjalanan kami lanjutkan ke pantai jungwok, karena kami ingin adventure kami memilih ke pantai jungwok jalan kaki walaupun bisa memakai sepeda motor. Kami memilih jalur langsung dari pantai Wediombo, perjalanan dari pantai Wediombo ke pantai Jungwok kurang lebih 1 Km. Karena kami parkir di pantai Wediombo masuk pantai Jungwok pin geratis. Sesampai di pantai Jungwok waktu kami manfaatkan untuk berteduh istirahat. Sembari melihat keindahan laut dan bebatuan di temani gemuruh ombak.IMG_20151229_140051
  3. Pantai Watu Lumbung
    setelah lelah menikmati Jungwok kami berencana untuk ke pantai watu Lumbung. kami pun berjalan menuju parkiran di pantai Wediombo untuk mengambil sepeda motor karena perjalanan ke pantai Watu lumbung dari pantai Wediombo lumayan jauh. Perjalan ke pantai Watu Lumbung sangat ekstrem jalan yang terjal dan berliku menyulitkan kami. Akhirnya kami sampai di pantai Watu Lumbung untuk parkir kami membayar Rp 2.000,00 permotor. Walau hanya dari parkiran kami sudah di suguhi hamparan pemandangan yang luar biasa. Dari atas sini kita bisa melihat banyak sekali pantai dan hal” yang menghiasi pantai. Karena hari menjelang sore sekitar jam 03.25 kami putuskan tidak turun dan melanjutkan perjalanan.
  4. Pantai Siung
    ketika melanjutkan perjalanan pulang munculah hasrat kami ingin melihat sunset. Kamipun menyempatkan mampir ke pantai Siung. Tiket masuk ke pantai Siung adalah Rp 5.000,00 per orang. Harga itu sudah termasuk seluruh pantai di dalamnya, sesampai di sana hari menjelang sore kami parkir kan motor kami dengan membayar Rp 2.000,00. Indahnya pantai ini cocok untuk bermai air bersama keluarga dan teman-teman, bagi yang ingin ngecam pun bisa, di sediakan kapal nelayan untung yang ingin menikmati tengah lau, tempat ibadah juga ada beserta air bersih. Sebelum menikmati sunset kami sempatkan untuk makan dahuludi salah satu warung makan, memang disini banyak tempat makan jadi tak perlu panik bagi yang tidak bawa makanan. Waktu menunjukkan 17.42 kami bergegas menaiki bukit, biasanya orang yang ingin naik harus bayar Rp 1.000,00 tetapi karena sepi kami tidak membayar terbayar sudah lelalah kami menikmati indahnya panorama Indonesia. Jayalah Indonesia. Awalnya kami ingin mengecam di pantai Siung tapi dikarenakan besok banyak agenda maka kami putuskan untuk pulang.

Terbayar sudah jerih lelah kami, gelap-gelap kamipun pulang. Walau lelah tapi kami tetap puas.

Erwin The Brandal

dikarenakan episode 1 hilang langsung aja episode 2

Episode 2

Chiby kakashi

Setelah lama gue lewatin badai dan terjangan ombak yang luar biasa di kelas X. akhirnya gue naik derajad menjadi kelas XI (kelas tongkol). Gue masuk kelas faforit impian dan idaman (katanya) yaitu kelas XI-IPA 1.

Di kelas itu gue nemuin banyak kawan baru seperti wewe gombel, kuntilanak, pocong, tuyul, suster ngesot, gundoruwo,babi ngepet, dan sejenisnya (termasuk yang baca cerpen ini). Jangan loe berfikir kalo gue sunder bolong. Tidak, itu salah besar, gue bukan sunder bolong, gue kolor ijo. Inget y ague kolor ijo.

Awalnya seperti temen lain gue hanya kenal beberapa orang saja. Karena kalo gue liat yang lain keliatan asing, kaya bule atau uvo dari planet tak di kenal. Bahkan ada yang mukanya kaya pepes bandeng. Kadang gue cukup bingung, bedain mana setan mana orang.

Pertama gue masuk gue gak masuk (gue bingung mau nulis gimana). Gue gak ikut pelajaran pertama beberapa hari, kurang lebih 10 tahun. Soalnya gue ada job Fortasi dimana-mana. Maklum lah anggota parlemen Indonesia. Gue harus kesana kemari banting gelas ( untung aja gelas plastic).

Akhirnya gue ikut pelajaran di hari ke-4. Gue duduk di depan (maksud gue depan kelas bukan di halaman). Gue duduk ama gorilla peliharaan gue namanya rangga, dia anaknya supel, songong, lucu, cute, manis, cantik,  apa lagi kalo rambutnya di kucir dua (sayang dia cowok). Di belakang gue ada monyet peliharaan gue namanya pipit dia anaknya oon, songong, liar (gak jinak). Pernah gue di gigit ama monyet satu ini termasuk yang di dekatnya.

Di kelas XI-IPA 1 ini terdiri dari 28 sepesies, terdiri dari 4 cowok 24 cewek. Pas banget kalo di jatah 1 cowok dapat 6 cewek. Bakalan pus tuh seharian (jangan loe pada mikir yang macem-macem).

Satu lagi depan meja gue ada meja lagi. Itu meja milik anjing gue, yang sok ngajarin gue. Gelarnya aja cukup menyedihkan ada SPd (Sarjana penuh derita), MPd (Makin penuh derita), SSi (sudah sering insaf), Drs (didikan rumah setres), dll (dan lali liane).

Gue adalah siswa yang paling cakep di kelas (menurut gue). Tapi ada juga yang bilang gue jelek. Ya gue biarin aja mungkin mereka sirik ama gue.

Gue di kelas XI ini merasa menjadi psikolog hebat. Banyak yang sudah pernah curhat sama gue hasilnya bunuh diri semua. Ada juga yang pernah gue kibulin, bahkan gue yang di kibulin. Kebanyakan yang curhat adalah cewek. Masalahnya Cuma itu-itu aja yaitu “cinta n cowok” gue jawab aja “cowok emang ga pernak ngertiin cewek, makanya dari dulu gue ga mau pacaran ama cowok” . (buat yang satuini jangan loe ada yang mikir aneh anek ok?)

Karna gue capek di curhatin, akhirnya gwe gentian curhat sama orang lain bahkan sama polisi. Tapi mereka gak ada satupun yang jujur, semua bohongin perasaan mereka, yang katanya mereka sehati sama gue. Bahkan polisi juga bilang sehati sama gue. Buktinya pas hati gue bilang jangan ketilang malah ketilang. Emang ya polisi yang jujur itu ada dua, patung polisi sama polisi tidur.